A May Wedding

a-may-wedding1
Bumi apa yang ada di bawah kakimu? Hingga ada yang terenggut begitu kukuh dari dunianya, menyisa jejak yang pernah sangat dalam membekas. Lari. Lari ke bumimu. Lari dari yang seharusnya sempurna menjadi miliknya. Ia tak tau ia sekarat. Ia tak tau ada keranda yang hendak menuju kepadanya.Pure hearts stumble.

Ia duduk bertatap-tatapan dengan matanya sendiri. Menuang isi hati dan pikirannya dalam cawan yang tak bernama, mungkin juga tak bertuan, hingga kosong. Pagi itu. Rambutnya tersanggul setinggi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia benci warna lipstik ini. Warna kebohongan. Ia benci gaun ini. Motif pada lapisan lace-nya yang paling melengkung dan paling berkilau pada bulan Mei.

“Aku menikah bulan Mei.”

Waktu diputarnya hingga empat bulan sebelum hari sempurna di bulan Mei itu. Saat yang ia hadapi bukan dirinya sendiri dengan gaun putih bodoh dan wedding organizer yang lebih bawel dari serigala di bulan purnama. Saat yang ia hadapi hanya dirimu. Dirimu dan kulitmu yang matang. Matamu yang dalam. Alismu yang tegas. Lenganmu yang kokoh dan jari-jari tanganmu yang panjang. Tawamu yang serupa kembang api.

“Good for you.”

Jawabanmu lebih singkat dari kedipan negosiator ulung. That’s it? Don’t you want to fight for me?

Ia benci bahwa hanya ada satu jenis pertanyaan yang tak mampu ia sampaikan padamu. Dulu hingga kini: “Tak inginkah kau mempertahankanku?”

Kamu bertemu dengannya di gerbong makan pada sebuah kereta menuju kotamu. Pada satu sore yang sehangat sore sebelumnya dan setelahnya. Jendela kereta yang memutar film kehidupan. Anak sekolah yang menatap kosong pada pintu-pintu kereta yang berlari. Sore yang normal, sampai ia menyadari sosokmu di balik meja itu. Ia bisa mendengar jantungnya yang bergemuruh. Dan denyar-denyar yang pernah ia rasakan belum genap dua tahun yang lalu seperti terbangun dari kematiannya. Ia masih mencintaimu sama menderitanya dengan hari-hari biasanya.

Itu adalah pertemuan yang direncanakan alam. Awan, abu vulkanik, tanah basah dari hari yang menikah dengan hujan, embun yang menetes dari kuncup hidungmu setelah wudhu. Memang apa lagi yang bertanggung jawab atas pertemuan itu?

Lalu ia duduk di depanmu. Kata “apa kabar” yang ingin ia tambahkan “aku masih mencintaimu, kamu?”. Obrolan cuaca dan pekerjaan. Dan keluargamu. Dan keluarganya. Dan pernikahannya. Di bulan Mei. Kalimat-demi kalimat mengalir dari bibirmu, secair sejenaka sebiasanya. Namun matamu melarikan diri dari matanya. Kau memilih melihat daun pada dahan yang berlarian teratur, abai pada jendela-jendela gerbong yang menanti.

Sedangkan ia termangu, tersesat di matamu. Adakah jalan keluar?

Matamu sempat bertemu dengan matanya. Tepat saat sebuah stasiun membuat kereta berhenti bergerak. Itu hari yang paling sakit sebelum bulan Mei terbit.

Ada yang tak adil pada sebagian darimu. Pada alam kau mengadu: “Ia datang dan mengusikku lagi. Ia datang lagi dan mengusikku lagi. Ia lagi-lagi datang dan mengusikku. Lagi dan mengusikku. Datang dan mengusikku. Mengusik kesepianku. Mengusik kerelaanku. Memaksaku memikirkannya hingga babak belur. Lagi.”

In my hands, they crumble.
Fragile and stripped to the core.

Kemudian ia tak tau apa yang salah dari mimpinya untuk memilikimu. Apa yang membuat harapan itu remuk. Lalu ia terpaksa pergi. Hanya karena takut mengusikmu. Mengusik apa pula ia tak paham. Tak tau. Lalu kau mengadu lagi pada bumi: “Ia mulai menyakitiku. Dengan kehadirannya yang tiba-tiba.”

Baiklah. Ia kini tak hanya pergi. Ia berlari. Menyambar gerimis di matanya.

I can’t hurt you anymore.

Maka kau dengannya adalah yang asing pada satu sama lainnya. Seperti sendok dan garpu yang tidak pernah dipasangkan sebelumnya. Ia tak mau tau lagi tentangmu. Kau tak mau ingat lagi tentangnya. Meski mustahil.

Loved by numbers.
You’re losing life’s wonder.
Touch like strangers..
Detached..

Keasingan itu begitu pekat. Begitu bebal. Seperti kematian malaikat maut.

I can’t feel you anymore.

Apa kabarmu? Apakah kau juga kehilangan malaikat mautmu? Pada hari ini saat bulan Mei mengetuk pintu gereja. Lalu tamu-tamu berbaris masuk mencari kursinya. Kursi kerabatnya di sebelah kiri. Kursi keluarga pengantin pria di sebelah kanan. Apakah kau akan datang? Ia punya bangku spesial untukmu. Di luar gereja. Di bawah pohon cemara.

Apa kabarmu? Ataukah kau baik-baik saja? Sebaik dan sebenar rinai yang rintik di bulan November? Bulan November pertama kali kau jatuh cinta dengannya? Sebenar itu kah?

The sunshine trapped in our hearts It could rise again.
But I’m lost, crushed, cold and confused,
..with no guiding light left inside.

Tamu-tamu ini menerornya. “Cepatlah menikah atau kami menikammu.”

Ia mencarimu. Di setiap bangku. Di setiap mata. Di setiap udara. Apa kabar janji yang pernah kau ucapkan dulu, bahwa kau akan menjadi Superman-nya pada setiap apa yang menyerangnya. Ia kini diserang takdir, yang seharusnya bisa dicegah, dengan cukup satu hal: kehadiranmu.

When comfort and warmth can’t be found I still reach for you.
But I’m lost, crushed, cold and confused,

..with no guiding light left inside.
You’re my guiding light.

Guiding Light – Muse
-songinterpreting-