Memasung Sayap Kupu-Kupu

Harus ada alasan bagus mengapa Edward Norton Lorenz menamainya efek kupu-kupu atau Butterfly Effect. Ia bisa saja memilih hewan lain yang ‘tidak cukup puitis untuk dijadikan teori fisika’, misalnya camar laut, atau burung gereja.

Satu kepakan sayap hewan mungil ini adalah bagian dari kondisi awal, yang olehnya menimbulkan perubahan ritme udara dan cuaca, hingga memunculkan hurricane atau tornado di belahan bumi lainnya.

Aku yakin kita bukan versi satu-satunya dari raga yang kita rasuki. Ada diri kita dengan versi lain di alam yang berbeda, yang sedang sangat bahagia dengan hidupnya. Sedangkan yang ada di dunia ini adalah versi tersedih dari diri kita. Mungkin kita yang di sini adalah kondisi akhir yang dipicu kepakan sayap seekor kupu-kupu di kebun tetanggamu. Mungkin versi bahagia diri kita di alam lain itu adalah bagian dari himpunan kondisi yang tidak melibatkan sayap apapun.

Apa yang terjadi ketika manusia tau kapan ia akan mati? Mungkin tidak lebih mengerikan daripada mengetahui kapan dunia kiamat, seperti yang digambarkan di Melancholia. Mengapa tuhan tidak membuat kita memiliki pengetahuan kematian itu? Seperti saat ia mencipta manusia sekaligus iblis, lalu menjadikannya hiburan dengan mengadu keduanya dan menertawakan doa manusia untuk terbebas dari iblis?

Jika aku tau besok aku akan mati, aku akan menggunakan hari ini untuk..

melihat mentari yang membenamkan dirinya di akhir horizon pantai, dalam usia tersepuhnya di satu hari, atau..

makan red velvet cake sebanyak mungkin pukul dua pagi, atau..

menulis lagu tentang bagaimana perempuan yang putus asa berusaha membutakan sepasang mata yang mengusik mimpi dan keseimbangannya.

Dan aku akan memasung sayap kupu-kupu, mencegahnya menyeru bencana. Aku akan bahagia demi pergi darimu, mencegahmu memporanda apa yang telah tersketsa.

Selamat bertambah usia, gadis dalam cermin yang hidupnya tergadai proyeksi. Semoga esok engkau masih bisa terbangun dan memulai hari.