Creep

Pernah kubilang, aku selalu merasa tidak nyaman dengan film yang membunuh tokoh utamanya pada lima belas menit pertama. Lalu sutradara memutar waktu hingga tiga atau bahkan dua puluh tahun sebelum kematian itu. Dan di sepanjang film kita menyaksikan bagaimana tokoh utama menjalani hari-hari selama ia masih bisa berbicara. Tersenyum. Jatuh cinta. Berjalan kaki di antara gedung-gedung kota. Begitu seterusnya hingga kita mulai menyayanginya, hanya untuk tau bahwa dua jam lagi ia akan mati.

Aku selalu merasa tidak nyaman dengan keniscayaan bahwa memilikimu adalah mustahil. Sedang perasaan kecil di satu titik di hatiku yang mengakui cintanya kepadamu begitu mendera. Lalu mataku membiasakan retinanya merefleksikan dirimu yang sublim, hanya untuk tau bahwa keagungan tidak akan pernah menjadi hakku.

When you were here before, I couldn’t look you in the eye. You’re just like an angel. Your skin makes me cry. You float like a feather. In a beautiful world.  

Ada yang salah tentang cara tuhan bekerja. Ia membangun jembatan yang terlalu jauh membentang, antara kesempurnaan dan kehinaan. Hingga saat mata kita bertemu, tubuhku rengsa. Menyentuh kulitmu membuatku ingin menangis. Bahwa setiap pasir yang kau injak akan mengutuki betapa kecil dirinya dibanding kemuliaanmu.

You’re so fucking special. I wish I was special.

Maka aku menemuimu pada satu hari sebelum kau menikah dengan sahabatku. Mengucapkan selamat menikah, selamat tinggal, dan bahwa aku pernah dan masih mencintaimu sejak ribuan tahun. Maaf, aku lupa kapan tepatnya aku mulai mencintaimu. Karena pada hari ketika hatiku pertama berdenyar, jarum jam membekukan dirinya. Kehidupan di sekelilingku berhenti. Memberi waktu pada diriku mengagumimu. Bukankah ini menyakitkan, bahwa aku mencintaimu bukan atas kesempatan yang kau beri, tapi karena semesta mengutuk dirinya menjadi batu hingga aku bisa bergerak bebas dalam kekelabuan.

I don’t care if it hurts.

Lalu aku menuntaskan kesempatan yang pernah alam sematkan pada bahuku untuk kejujuran ini. Dan kau hanya diam menyaksikan wajahku banjir air mata. Aku berharap itu bukan karena seseorang menancapkan paku di sepatumu. Ya, harus ada penjelasan bagus mengapa seorang pria diam saja saat ada wanita menjerit-jerit bahwa ia jatuh cinta padanya.

Jantungku bagai berhenti berdetak saat aku menyelesaikan kalimatku. Apa itu artinya aku harus bicara lagi? Tentu saja. Apa kau pikir perasaan yang dipendam selama ribuan tahun bisa habis begitu saja dimuntahkan dalam tak lebih dari satu jam bicara?

Tapi aku memilih berlari pergi, bahkan sebelum kau mengambil nafas pada detik pertama aku selesai bicara. Ini terlalu terlambat.

I’m a creep, I’m a weirdo. What the hell am I doing here? I don’t belong here.

I’m a creep,

I’m a weirdo..

—-

Radiohead – Creep

-songinterpreting-