Tentang Bumi yang Jatuh Cinta Pada Langit

tentang-bumi-yang-jatuh-cinta-pada-langit

Ini adalah sore yang riuh. Manusia-manusia keluar masuk tiap pintu yang terbuka.

Harmonika Om John, musisi jalanan di kota pelajar, menggitakan Michelle. Mendongakkan kepala mereka yang adalah remaja di tahun 1960-an, yang kemudian menikah di tahun 1970-an, saat Star Wars adalah juara, saat Osama bukan siapa-siapa. Sampai di bait kedua, Om John menghela nafas sebelum meneruskan tiupannya. Manusia-manusia tua di restoran itu menggumamkan syair yang susah payah mereka ingat. Mengenang keusangan mereka. Betapa benda mati memiliki nyawa abadi. Lagu, syair, kata-kata, surat cinta, dendam, nama, teka-teki. Sedang manusia menua dan mati.

Dan kau terus hidup.

Senja itu, kau sedang jingga. Warnamu terpantul di cangkir kopi warna putih seorang janda yang menunggu kekasihnya, di kedai kopi yang berat hati buka terlalu dini. Senja itu, aku menamaimu Michelle.

Ma belle.

Satu pagi, kau sedang biru. Seorang polisi yang tengah kacau oleh pernikahannya nyaris tertabrak sepeda anak sekolah. Ia hampir murka saat tiba-tiba si anak berteriak, “Good day Sir!” sambil melenggang ceria. Yes, that was a good day. Sang polisi terhenyak pada indahmu di mula hari. Birumu merengkuh manusia pagi, hijau dedaunan di pohon-pohon yang berpesta di bulan Juni, burung-burung pipit di ujung pagar rumah seorang veteran perang baik hati. Kau sungguh biru dengan awan lembut putih sebagai syalmu. Dan aku bisa melihatmu bercinta dengan matahari itu. Tak apa. Asal kau bahagia. Pagi itu, aku menamaimu Sunshine. Good Day Sunshine.

Kuharap matahari baik padamu. Kuharap kali itu ia tulus mencintaimu. Kuharap ia tak lagi membuatmu menangis deras. Basahnya menenggelamkanku. Lalu lintas terhenti. Rumput-rumput rebah dalam genangan dukamu. “Ada apa dengan langit hari ini? Ia cerah beberapa menit yang lalu,” keluh seorang loper koran yang seragam sekolahnya kuyub. Dengan murung, ia berteduh di bawah atap toko, berpikir keras apakah ia harus berangkat ke sekolah, atau berbenah. Beberapa kilometer dari tempatnya berdiri, bendera yang layu karena berat air matamu, terhenti di tengah tiang setelah peserta upacara lari terbirit-birit masuk ke ruang kelasnya.

Seorang banker duduk di sepeda motornya, di sebuah jalan bernama Penny Lane. Anak kecil menertawainya karena ia tidak memakai jas hujan. Lihat, bahkan dalam ekspresi tersedihmu, kau bisa membuat anak kecil riang gembira. Hari yang basah itu, aku menamaimu Penny Lane. Lalu kau tersenyum. Apa kau suka nama itu? Sehelai warna-warni menyelimutimu. Ah ya, tentu saja. Kau tersenyum karena datangnya kekasih barumu. Pelangi.

Suatu malam, saat aku menamaimu Norwegian Wood, kau mengenakan gaun hitam. Anggun, dengan bintang-bintang sebagai perhiasaan. Bulankah yang menghadiahimu gaun seindah itu? Di bawahmu, merah kuning lampu kendaraan berpenjar-penjar. Seorang seniman jalanan meneriakkan puisi cinta pada sepasang muda-mudi yang sebenarnya bukan kekasih.

“Apakah kau akan membenciku jika aku menciummu?” tanya si pemuda dalam hati.

“Seandainya kau tau.. aku lebih merindu saat-saat bersamamu, daripada saat bersama kekasihku,” pikir si pemudi.

Hangatmu di malam hari menggugah kembali denyar-denyar terlarang yang pernah ditenggelamkan rasa syukur pada hidup yang telah mereka miliki. Tapi siapa yang bisa menyalahkan cinta, sesalah apapun, jika memang ia tulus dan tak terukur?

Seperti itulah aku mencintaimu. Tulus dan tak terukur. Tapi aku hanya bisa diam. Karena aku tak kan pernah bisa melihat punggungmu berbalik. Meski aku selamanya sanggup menanti. Sesungguhnya, aku telah menulis daftar kata, yang mungkin akan kau ucapkan saat punggungmu berbalik padaku. Tiap kata itu, sudah pula aku siapkan baik-baik jawab yang paling sempurna. Hanya saja, aku tak tau bagaimana menjawab keheningan. Selain dengan keheningan.

Karena aku bukan bulan yang membuatmu memesona. Yang mengenakanmu gaun hitam yang indah, dengan bintang-bintang nan mewah. Bukan pula matahari yang membuatmu ceria. Atau pelangi, berimu warna-warni.

Aku hanyalah bumi. Yang selalu ada bahkan saat bulan, matahari, bintang dan pelangimu pergi. Meski kau berlari, atau bahkan terbang. Meski aku tak bisa mengejarmu dan memintamu berhenti untuk melihatku sekilas saja. Aku tetap ada. Selamanya dengan kesetiaan yang sama, ketulusan yang mengristal, jarak yang stagnan. Aku hanya bumi. Yang hanya bisa berputar-putar sejauh porosku. Mencarimu.

Pada akhirnya, aku harap kau tau, bahwa diamku berkata-kata.