Yang Tak Ada di Depan Pintumu

amsterdam-house

Pagi ini, kau terbangun dengan rasa kehilangan yang segenap hari-hari sebelumnya. Tanganmu meremas erat bantal di samping kepalamu bersandar. Kau gagal menemukan sesuatu. Yang hangat dan intim, yang bisa kau genggam sebelum kau membuka mata. Agar bisa menemukan wajahnya dalam damai pagi yang adil pada mereka yang disesatkan mimpi.

Tanganmu masih terkepal. Kau enggan membuka matamu. Karena kau tau, tak ada lagi yang bisa kau tatap hingga ke dalam jiwanya. Tak ada ia yang bisa kau cumbu wajahnya seratus kali sebelum kalian memulai hari. Dan kau tak bisa dengan mudah cerai-beraikan potongan puzzle yang mulai menemukan tempatnya itu. Membangun tinggi memori. Tentang hangat bibir bawahnya yang kau rasai di tiap bibir perempuan tempatmu belajar melupakan. Tentang ringan tubuhnya yang selalu melompat ceria dengan tangan yang memeluk pundakmu. Tentang wangi pagi lehernya. Dan tawa kekanakan yang melepasmu pergi bekerja.

Karna kau tau, kenangan-kenangan yang menawanmu tak seringkih rumah kartu. Kau tak bisa merobohkannya dengan sekali tiupan. Kau tak bisa menepisnya dengan hanya berlari. Tentu saja. Karena dunia kalian disatukan alam dengan sangat hati-hati. Maka kau harus terbang tinggi untuk melawan kehendak alam di bawahmu. Mengangkasakan tubuhmu dalam kerelaan yang harus kau bungkus dengan hal lain seperti benci-benci, agar ia lesat sesegera angin.

Namun kau lebih memilih mematung di balik tirai jendelamu. Menunggu ia berjalan melewati rumput yang meninggi di depan pintumu dengan langkah riang dan senyum yang kau hafal betul.

Lalu suatu kali, kau pikir kau benar-benar melihatnya. Langkah-langkah lebarnya melawan tajam rerumputan dengan kakinya yang telanjang. Dengan gaun yang tiap teksturnya pernah menggelincirkan jemarimu dalam segala situasi.

Tapi hah, tentu saja bukan.

Bukan ia yang sengaja datang ke kotamu. Dengan air mata yang meminta dekapmu kembali. Kau tersadar setelah bayangannya melerak, tepat satu langkah sebelum pintu yang sejak ia pergi tak lagi pernah kau kunci. Sebelum kau bisa meraih ujung jarinya yang melambai padamu.

Namun kau tak rela melihatnya dipudarkan kesadaran. Kau meraih pensil, menyempurnakan lagi sisa-sisa gradasi bayangan yang masih ada. Kau lebarkan labirinmu sendiri. Menyuburkan tetumbuhan yang menyekatmu hingga setinggi atmosfer terjauh. Kau melempar pil yang disodorkan padamu untuk euthanasia yang sempat kau setujui. Kau tak menyerah, menyengajakan diri memelihara rasa kehilanganmu.

Padahal mungkin saja kau tau: Ia bukan batu besar di bawah pohon yang pertama kau temui saat mendaki, dan masih ada saat kau kembali. Ia bahkan bukan anak burung yang meski terbang ke pepohonan di gunung lain ber mil-mil jauhnya, satu waktu akan tetap kembali ke sarang induknya. Ia bukan pula tanah basah yang melekat di sela-sela sepatumu kemanapun kau melangkah. Ia adalah kata-kata dalam hati pendaki yang terduduk sendiri di puncak tertinggi. Sayup. Khusyuk. Kadang meluap-luap. Tak tertebak. Bergema di kupingnya sendiri. Lalu binasa. Ditelan doa dan kontemplasi yang sunyi, yang bahkan tak tereja oleh hatinya.

Mengapa kau masih berpikir bahwa kalian akan benar-benar bertemu di depan pintu itu, dengan dua hati yang masih sama-sama utuh? Mengapa kau berpikir bahwa, bahkan ketika waktu mempertemukan mata kalian lagi, ia bisa menjawabmu dengan kata-kata pasti, bukan dengan diam yang bagi kalian berdua menyakiti? Mengapa kau tak berteriak lantang dan berani pada tirani patah hati, menyerunya sebagai ia yang telah pergi? Sebagai ia yang tak pernah bisa kau nanti?